Khabar Mutawatir: Artinya, Pembagiannya dan Hal Yang Berkaitan Dengannya

khabar mutawatir: artinya, pembagiannya dan hal yang berkaitan dengannya

Last Updated on

Bismillahirrahmanirrahim.. pada artikel kali ini saya akan membahas mengenai khabar mutawatir: artinya, pembagiannya dan hal yang berkaitan dengannya. Selamat membaca..

Khabar

Bahasan mengenai khabar terbagi ke dalam tiga pasal, yaitu:

  1. Pembagian Khabar berdasarkan cara penyampaiannya
  2. Pembagian khabar ahad
  3. Khabar ahad yang musytarak di antara yang diterima (al-maqbul) dan yang ditolak (al-mardud)

Pembagian khabar berdasarkan cara penyampaiannya

Bahasan ini terbagi ke dalam dua bahasan, yaitu:

  1. Khabar Mutawatir
  2. Khabar Ahad

Pembagian khabar berdasarkan cara penyampaiannya terbagi kepada:

  1. Jika jalan periwayatan khabar tersebut tidak terbatas pada bilangan tertentu, maka disebut khabar al-mutawatir
  2. Jika jalan periwayatan khabar tersebut terbatas pada bilangan tertentu, maka disebut khabar al-ahad
Khabar

Al-khabar Al-mutawatir

  1. Menurut bahasa: Termasuk kepada isim fa’il, musytaq dari kata at-tawaatur, yaitu semakna dengan at-tataabu’, seperti perkataan: tawaataral matharu, yaitu semakna dengan tataaba’a nuzuuluh
  2. Menurut istilah: Suatu riwayat yang karena banyaknya yang meriwayatkan sehingga mustahil bohong menurut kebiasaan

Penjelasannya adalah: sesungguhnya al-mutawatir adalah hadits atau khabar yang periwayatnya dalam tiap tingkat demi tingkat sanadnya sangat banyak. Sehingga karena hal tersebut akal menghukumi mustahil terjadi kesepakatan di antara para perawi yang menyalahi khabar tersebut.

 

Syarat Khabar Mutawatir

Khabar mutawatir mempunyai beberapa syarat yaitu:

  1. Periwayatnya harus banyak. Telah terjadi perbedaan pendapat di dalam batas minimal jumlah perawi, dan pendapat yang dipilih adalah sepuluh perawi
  2. Jumlah perawi yang banyak ini ada pada setiap tingkatan sanad
  3. Mustahil menurut kebiasaan terjadi kesepakatan para perawi untuk berbohong
  4. Bersambung sanad khabarnya secara indrawi (ayakuna mustanadu khabarihimul hissi)

 

Hukum Khabar Mutawatir

Hadits atau khabar mutawatir membuahkan pengetahuan yang pasti (al-‘ilmu adh-adharuuriy), yaitu ilmu yaqiniy (pengetahuan yang memberikan keyakinan ), yang ilmu ini mau tidak mau manusia harus membenarkannya dengan pembenaran yang kuat, seperti kesaksian mengenai (keberadaan) dirinya sendiri. Sebagaimana kesaksian mengenai (keberadaan) dirinya sendiri yang tidak ada keraguan dalam pembenarannya, maka seperti itulah khabar mutawatir. Oleh karena itu maka khabar atau hadits mutawatir semuanya diterima (maqbul) dan tidak membutuhkan pembahasan mengenai para perawinya.

 

Pembagian Khabar atau Hadits Mutawatir

Khabar atau hadits mutawatir terbagi kepada dua bagian, yaitu mutawatir lafzhiyi dan mutawatir ma’nawiy

  1. Mutawatir lafzhiyi. Yaitu mutawatir lafazhnya (kalimatnya) dan maknanya. Seperti hadits: Rasulullah bersabda: “Barangsiapa yang berdusta atasku dengan sengaja maka sediakanlah tempat duduknya dineraka”. (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud, At-tirmidzi, Ibnu Majah, Ad-darimi, dan Ahmad). Hadits ini diriwayatkan oleh tujuh puluh sahabat. Kemudian berkelanjutan banyaknya jumlah perawi ini dalam tingkatan sanad berikutnya.
  2. Mutawatir lafzhiyi. Yaitu tawaatur maknanya akan tetapi tidak lafazhnya (kalimatnya). Seperti hadits-hadits mengenai mengangkat tangan dalam berdo’a. Riwayat dari rasulullah mengenai ini ada sekitar seratus hadits. Pada setiap hadits diriwayatkan mengenai mengangkat tangan ketika berdo’a. akan tetapi dalam bentuk kalimat yang berbeda-beda. Maka tiap bentuk kalimatnya tidaklah tawatur, akan tetapi kesimpulannya atau maknanya tawatur (yaitu mengangkat tangan ketika berdo’a) dengan memperhatikan seluruh jalannya.

 

Keberadaan Khabar atau Hadits Mutawatir

Ada sejumlah khabar atau hadits yang dianggap termasuk kepada mutawatir, seperti hadits haudh, hadits mengusap kedua khuf, hadits mengangkat tangan di dalam (beberapa gerakan) shalat, hadits nadharallahum ra’a’, dan lain-lain. Akan tetapi jika dibandingkan dengan jumlah hadits ahad, maka jumlah hadits mutawatir lebih sedikit daripada hadits ahad.

 

Penulis Yang Terkenal Menulis Mengenai Khabar atau Hadits Mutawatir

Telah hadir para ulama yang mengumpulkan hadits mutawatir dalam karya tulis mereka, seperti:

  1. Al-azhar al-mutanatsirah fil akhbar al-mutawatirah, karya As-suyuthi
  2. Qatful Azhar, karya as-suyuthi juga, kitab ini ada takhlis dari kitab sebelumnya
  3. Nazhmul Mutanaatsir mina hadits al-nutawatir, karya Muhammad bin Ja’far al-kataniy

———————————————————————————————————————————————–

Sekian tulisan saya mengenai mengenai khabar mutawatir: artinya, pembagiannya dan hal yang berkaitan dengannya dalam artikel kali ini,  semoga bermanfaat bagi saya khususnya dan bagi para pembaca umumnya. Terimakasih telah berkunjung. Wassalam

Sumber:

  1. Taisiir Musthalah Al-hadits, DR. Mahmud Thihan, hlm. 21-26, Penerbit: Maktabah Al-ma’arif linasyri wattauzii’, cetakan ke-11, thn. 1431 H/2010 M, Riyadh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *